Jumat, 24 Oktober 2014
On 14.03 by Unknown No comments
kali ini saya akan memberikan tutorial bagaimana cara edit foto False Color pakai Photoshop.
Oke langsung aja disimak :)
-Pertama buka Channel Mixer
-Blue Channel Mixer
-Red = -50
-Green = +150
-Green = +150
-Blue = 0
Setelah dari menu Channel Mixer sekarang kita lanjut ke menu berikutnya.
-Buka menu Hue/Satuation
-Pilih Edit Cyan kemudian ubah Lightness menjadi +100
-Pilih Edit Blue dan ubah Saturation menjadi -100
-Buka menu Level
-Pilih Channel RGB = [22] [1,11] [255]
Output
Level = [18] [255]
-Pilih Channel Red = [20] [1,11] [255]
Output
Level = [16] [255]
-Pilih Channel Green = [22] [1,11] [255]
Output
Level = [4] [255]
-Pilih Channel Blue = [30] [1,13] [255]
Output
Level = [17] [255]
Setelah menu Level selanjutnya adalah tahap penyelesai'an.
-Buka menu Selective Color
-Pilih Colors Yellows
Kemudian ubah Yellow
-70 Black -100
-Pilih Colors Whites
Kemudian ubah Yellow
-50 Black -50
-Pilih Colors Neutrals
Kemudian ubah Yellow
-20
Setelah semuanya sudah selesai langkah terakhir menggabungkan semua layer dengan menu Flatten Image.
Dan Beginilah hasilnya :
Sekian tips dari saya maaf kalau ada kesalahan atau kekurangan dalam tutorial ini :)
Selasa, 07 Oktober 2014
On 14.36 by Unknown No comments
MENGGUNAKAN KAMERA DSLR
Sekarang ini banyak
sekali bertebaran kamera DSLR,banyak sekali penghobi fotografi yang baru
belajar teknik fotografi,sama sih saya juga masih belajar,jadi kumpulin dari
berbagai macam source yang ada,pengen share aja yang aku tau di tambah info
tambahan dari berbagai media.sekalian belajar bareng.
Buat yang baru masuk
dunia fotografi mungkin masih bingung dan awam dalam fotografi, berikut saya
mau mencoba untuk menjelaskan dan memberi tutorial sederhana tentang dasar
pemahaman kamera dan teknik dasar fotografi.
Mengenal fotografi dan kamera.
Fotografi
Mengenal fotografi dan kamera.
Fotografi
Fotografi ( Photography
) berasal dari kata Foto ( Cahaya ) dan Graphia ( menulis / menggambar ), sehingga dapat
diartikan bahwa fotografi adalah suatu teknik menggambar dengan cahaya. Atas
dasar tersebut, jelas bahwa cahaya sangat berperan penting dan menjadi sumber
utama dalam memperoleh gambar.
Kamera SLR
Kamera SLR
Kamera SLR ( Single Lens
Reflex ) atau D-SLR ( Digital ) merupakan kamera dengan jendela bidik (
view finder ) yang memberikan gambar sesuai dengan sudut pandang lensa melalui
pantulan cermin yang terletak di belakang lensa. Pada umumnya kamera biasa
memiliki tampilan dari jendela bidik yang berbeda dengan sudut pandang lensa
karena jendela bidik tidak berada segaris dengan sudut pandang lensa.
Seperti dibahas
terdahulu, fotgrafi berkaitan erat dengan cahaya, maka kamera berfungsi untuk
mengatur cahaya yang ditangkap image sensor ( sensor gambar pada kamera digital
atau film pada kamera konvensional ). Untuk mengatur cahaya, terdapat 2 hal
mendasar dalam kamera, yakni Shutter Speed ( Kecepatan Rana ) dan Aperture (
Diafragma ).
Shutter Speed
Shutter speed atau
kecepatan rana merupakan kecepatan terbukanya jendela kamera sehingga cahaya
dapat masuk ke dalam image sensor. Satuan daripada shutter speed adalah detik,
dan sangat tergantung dengan keadaan cahaya saat pemotretan. Semisal cahaya
terang pada siang hari, maka shutter speed harus disesuaikan menjadi lebih
cepat, semisal 1/500 detik. Sedangkan untuk malam hari yang cahayanya lebih
sedikit, maka shutter speed harus disesuaikan menjadi lebih lama, semisal 1/5
detik. Hal ini sekaligus menjelaskan mengapa foto pada malam hari cenderung
buram, bahwa shutter speed yang lebih lambat memungkinkan pergerakan kamera
akibat getaran tangan
Aperture
Aperture atau diafragma
merupakan istilah untuk bukaan lensa. Apabila diibaratkan sebagai jendela, maka
diafragma adalah kiray / gordyn yang dapat dibuka atau ditutup untuk
menyesuaikan banyaknya cahaya yang masuk. Pada kamera aperture dilambangkan
dengan huruf F dan dengan satuan sebagai berikut:
f/1.2
f/1.4
f/1.8
f/2.0
f/2.8
f/3.5
f/4.0
dst…
f/1.2
f/1.4
f/1.8
f/2.0
f/2.8
f/3.5
f/4.0
dst…
Semakin kecil angka
satuan maka akan semakin besar bukaan lensa ( f/1.4 lebih besar bukaannya
dibandingkan dengan f/4.0 ).
Jadi, korelasi antara
shutter speed dan aperture adalah bahwa semakin besar bukaan lensa, maka
shutter speed akan semakin cepat, sebaliknya semakin kecil bukaan lensa, maka
shutter speed akan semakin melambat
Mode pada kamera DSLR
Mode pada kamera DSLR
Setiap kamera punya
istilah masing – masing untuk pengaturan mode. Berikut dijelaskan untuk
beberapa tipe kamera saja.
Pada kamera Nikon D90 terdapat 11 mode pemotretan
M= Full Manual
Pada kamera Nikon D90 terdapat 11 mode pemotretan
M= Full Manual
Pada mode ini pengaturan
kamera sepenuhnya manual, baik shutter speed, aperture, ISO, dsb.
A= Aperture Priority
A= Aperture Priority
Pada mode ini aperture
dapat diatur sesuai dengan kehendak, namun shutter speed akan mengimbangi
secara otomatis akan kebutuhan cahaya sesuai dengan besar aperture.
S= Shutter Priority
S= Shutter Priority
Pada mode ini shutter
speed dapat diatur sesuai dengan kehendak, namun aperture akan mengimbangi secara
otomatis kebutuhan cahaya yang sesuai dengan shutter speed.
P= Program
Pada mode ini baik
aperture maupun shutter speed akan mengkalkulasi secara otomatis sesuai dengan
kebutuhan cahaya, hanya saja pada mode ini tingkat exposure dapat diatur sesuai
dengan kehendak.
Auto
Auto
Mode auto merupakan mode
dimana kamera secara penuh mengatur akan segala kebutuhan pengaturan, dengan
kata lain pada mode ini fotografer tinggal “jepret” saja.
Portrait
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan portrait ( foto manusia ), seperti penggunaan tonal warna untuk skin tone, dsb.
Portrait
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan portrait ( foto manusia ), seperti penggunaan tonal warna untuk skin tone, dsb.
Landscape
Mode ini merupakan
pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto
pemandangan ( landscape), seperti tone warna yang lebih vivid atau lain
sebagainya.
Macro
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto macro ( jarak dekat sehingga objek tampak lebih besar ), seperti fokus lensa yang lebih disesuaikan.
Moving Object
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan pemotretan objek yang bergerak, sehingga fokus lensa akan lebih cepat bergerak menyesuaikan dengan pergerakan objek.
Night Landscape
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto pemandangan pada malam hari.
Night Portrait
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto portrait malam hari atau cahaya redup.[/spoiler]
Pada kamera Canon 350D terdapat 12 mode pemotretan:
A-DEP= Automatic Depth of Field
Pada mode ini, pengaturan fokus foreground dan background diatur secara otomatis oleh kamera sehingga lebih memungkinkan untuk menghasilkan foto yang tajam baik pada foreground maupun background.
M= Full Manual
Pada mode ini pengaturan kamera sepenuhnya manual, baik shutter speed, aperture, ISO, dsb.
Av= Aperture Value Priority
Pada mode ini aperture dapat diatur sesuai dengan kehendak, namun shutter speed akan mengimbangi secara otomatis akan kebutuhan cahaya sesuai dengan besar aperture.
Tv= Time Value Priority
Pada mode ini shutter speed dapat diatur sesuai dengan kehendak, namun aperture akan mengimbangi secara otomatis kebutuhan cahaya yang sesuai dengan shutter speed.
P= Program
Pada mode ini baik aperture maupun shutter speed akan mengkalkulasi secara otomatis sesuai dengan kebutuhan cahaya, hanya saja pada mode ini tingkat exposure dapat diatur sesuai dengan kehendak.
Auto
Mode auto merupakan mode dimana kamera secara penuh mengatur akan segala kebutuhan pengaturan, dengan kata lain pada mode ini fotografer tinggal “jepret” saja.
Portrait
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan portrait ( foto manusia ), seperti penggunaan tonal warna untuk skin tone, dsb.
Landscape
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto pemandangan ( landscape), seperti tone warna yang lebih vivid atau lain sebagainya.
Macro
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto macro ( jarak dekat sehingga objek tampak lebih besar ), seperti fokus lensa yang lebih disesuaikan.
Moving Object
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan pemotretan objek yang bergerak, sehingga fokus lensa akan lebih cepat bergerak menyesuaikan dengan pergerakan objek.
Night Scene
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto pada malam hari.
No Flash
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun apabila pada mode auto lainnya built in flash akan otomatis pop up apabila cahaya dirasa kurang, pada mode ini built in flash tidak akan menyala sama sekali, sehingga shutter speed dan aperture akan lebih berperan untuk mengimbangi kebutuhan cahaya.
Macro
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto macro ( jarak dekat sehingga objek tampak lebih besar ), seperti fokus lensa yang lebih disesuaikan.
Moving Object
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan pemotretan objek yang bergerak, sehingga fokus lensa akan lebih cepat bergerak menyesuaikan dengan pergerakan objek.
Night Landscape
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto pemandangan pada malam hari.
Night Portrait
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto portrait malam hari atau cahaya redup.[/spoiler]
Pada kamera Canon 350D terdapat 12 mode pemotretan:
A-DEP= Automatic Depth of Field
Pada mode ini, pengaturan fokus foreground dan background diatur secara otomatis oleh kamera sehingga lebih memungkinkan untuk menghasilkan foto yang tajam baik pada foreground maupun background.
M= Full Manual
Pada mode ini pengaturan kamera sepenuhnya manual, baik shutter speed, aperture, ISO, dsb.
Av= Aperture Value Priority
Pada mode ini aperture dapat diatur sesuai dengan kehendak, namun shutter speed akan mengimbangi secara otomatis akan kebutuhan cahaya sesuai dengan besar aperture.
Tv= Time Value Priority
Pada mode ini shutter speed dapat diatur sesuai dengan kehendak, namun aperture akan mengimbangi secara otomatis kebutuhan cahaya yang sesuai dengan shutter speed.
P= Program
Pada mode ini baik aperture maupun shutter speed akan mengkalkulasi secara otomatis sesuai dengan kebutuhan cahaya, hanya saja pada mode ini tingkat exposure dapat diatur sesuai dengan kehendak.
Auto
Mode auto merupakan mode dimana kamera secara penuh mengatur akan segala kebutuhan pengaturan, dengan kata lain pada mode ini fotografer tinggal “jepret” saja.
Portrait
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan portrait ( foto manusia ), seperti penggunaan tonal warna untuk skin tone, dsb.
Landscape
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto pemandangan ( landscape), seperti tone warna yang lebih vivid atau lain sebagainya.
Macro
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto macro ( jarak dekat sehingga objek tampak lebih besar ), seperti fokus lensa yang lebih disesuaikan.
Moving Object
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan pemotretan objek yang bergerak, sehingga fokus lensa akan lebih cepat bergerak menyesuaikan dengan pergerakan objek.
Night Scene
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto pada malam hari.
No Flash
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun apabila pada mode auto lainnya built in flash akan otomatis pop up apabila cahaya dirasa kurang, pada mode ini built in flash tidak akan menyala sama sekali, sehingga shutter speed dan aperture akan lebih berperan untuk mengimbangi kebutuhan cahaya.
Pengaturan cahaya
Exposure
Setiap kamera memiliki
light meter yang berfungsi mendeteksi intensitas cahaya. Sebelum menekan tombol
shutter, apabila menggunakan kamera pada mode manual ada baiknya memperhatikan exposure
meter terlebih dahulu.
Tampak pada gambar di
atas bar yang mengindikasikan exposure. Apabila ingin menghasilkan foto dengan
cahaya yang baik, letakan bar pada posisi tengah ( normal exposure ), namun
apabila menghasilkan foto yang lebih terang, geser bar ke arah tanda + (
menjadi over exposure ), dan sebaliknya, untuk hasil foto yang lebih gelap
geser bar ke arah – ( menjadi under exposure )
Setelah mengetahui sekilas tentang dasar fotografi, sekarang mari belajar teknik dasar fotografi.
1. Depth of Field a.k.a. DOF
Setelah mengetahui sekilas tentang dasar fotografi, sekarang mari belajar teknik dasar fotografi.
1. Depth of Field a.k.a. DOF
Depth of field atau
sering disingkat menjadi DOF merupakan salah satu teknik fotgrafi yang paling
dasar. Setiap foto memiliki kedalaman ( depth ) yang terbagi atas foreground (
depan ) dan background ( belakang ). Fokus pada lensa kamera dapat dikendalikan
atau diarahkan pada objek tertentu. Pengendalian Depth of Field berguna untuk
membatasi fokus pada foto dan lebih memberi kesan hidup pada foto.
2. Freeze
2. Freeze
Setelah memahami DOF
yang berkaitan dengan aperture, kali ini akan dijelaskan tentang freeze, dimana
sangat berkaitan erat dengan shutter speed. Foto freeze bertujuan untuk
mengabadikan suatu moment dengan gerakan cepat sehingga dapat tertangkap oleh
kamera sebagai gambar diam, seperti foto tetesan air, ledakan, atau foto ketika
orang sedang melompat dan lain sebagainya. Yang paling utama dalam mendapatkan
foto freeze adalah mengatur shutter speed secepat mungkin ( misal 1/500 detik,
1/1000 detik, hingga 1/8000 detik ). Karena tuntutan shutter speed yang cepat,
maka tentunya cahaya yang dibutuhkan sangat banyak, maka dari itu biasanya foto
freeze amatir lebih banyak dilakukan di ruang terbuka pada siang hari dimana
cahaya matahari bersinar terang. Bukan tidak mungkin untuk memperoleh foto
freeze pada malam hari atau cahaya yang minim, namun peralatan pendukung mutlak
diperlukan seperti flash atau bahkan lampu studio dengan kecepatan
singkronisasi yang tinggi pula.
Pertanyaan yang sering dilontarkan:
frequently asked question
1. Mengapa foto yang dihasilkan gelap?
Jawab: Karena cahaya
yang ada kurang memadai, sehingga foto menjadi under exposure. Coba untuk
naikan ISO agar shutter speed dapat menjadi lebih cepat.
2. Mengapa masih tampak pergerakan / gambar yang dihasilkan buram?
Jawab: Bisa jadi karena shutter speed kurang cepat mengimbangi kecepatan objek, namun apabila buram bisa jadi juga karena fokus lensa tidak tepat jatuh pada objek.
3. Movement
2. Mengapa masih tampak pergerakan / gambar yang dihasilkan buram?
Jawab: Bisa jadi karena shutter speed kurang cepat mengimbangi kecepatan objek, namun apabila buram bisa jadi juga karena fokus lensa tidak tepat jatuh pada objek.
3. Movement
Bertentangan dengan foto
freeze, foto movement bertujuan memperlihatkan pergerakan objek dengan shutter
speed yang rendah, sehingga pergerakan objek dapat tampak pada hasil foto.
Shutter speed yang digunakan cenderung rendah agar pergerakan objek dapat
terekam ( misal 1/5 detik, 1 detik, dst ), namun yang patut diperhatikan adalah
kamera harus tetap dalam posisi statis agar background daripada objek tetap
fokus walaupun shutter speed lambat.
Pertanyaan yang sering dilontarkan:
frequently asked question
1. Mengapa foto menjadi putih dan gambar tidak jelas?
Jawab: Cahaya pada saat pengambilan foto surplus, sehingga menjadi over exposure. Untuk mensiasatinya, perkecil bukaan lensa dengan menaikan aperture.
2. Mengapa foto menjadi buram semua?
Jawab: Karena kamera mengalami pergerakan pada saat shutter terbuka, sehingga gambar yang dihasilkan menjadi blur. Untuk menghindari hasil yang blur, gunakan tripod atau letakan kamera pada tempat yang statis dan stabil.
4. Panning
Pertanyaan yang sering dilontarkan:
frequently asked question
1. Mengapa foto menjadi putih dan gambar tidak jelas?
Jawab: Cahaya pada saat pengambilan foto surplus, sehingga menjadi over exposure. Untuk mensiasatinya, perkecil bukaan lensa dengan menaikan aperture.
2. Mengapa foto menjadi buram semua?
Jawab: Karena kamera mengalami pergerakan pada saat shutter terbuka, sehingga gambar yang dihasilkan menjadi blur. Untuk menghindari hasil yang blur, gunakan tripod atau letakan kamera pada tempat yang statis dan stabil.
4. Panning
Panning Mirip dengan
metode foto movement, namun dalam foto panning gerakan objek lebih ditampilkan
melalui background yang bergerak. Prinsip dasar foto panning sama dengan foto
movement, hanya saja pada saat pemotretan, kamera ikut bergerak mengimbangi
gerakan objek, sehingga objek tetap fokus namun background yang dihasilkan
bergerak.
Cara foto panning:
Bidik sasaran bergerak (
pada umumnya mobil ), tekan tombol shutter 1/2 agar fokus mengunci objek,
gerakan kamera mengikuti objek seketat mungkin agar objek tetap fokus,
sekiranya dirasa gerakan kamera sudah mengimbangi gerakan objek, tekan tombol
shutter penuh dengan kamera yang tetap bergerak mengikuti objek.
Pertanyaan yang sering dilontarkan:
frequently asked question
1. Mengapa foto buram semua?
Jawab: Bisa jadi karena gerakan kamera tidak sesuai dengan gerakan objek. Cobalah percepat shutter speed dan coba untuk mengikuti gerakan objek seketat mungkin.
2. Mengapa foto fokus semua?
Jawab: Bisa jadi karena shutter speed terlalu cepat dan atau kamera kurang digerakan pada saat pemotretan.
5. Bulb
Pertanyaan yang sering dilontarkan:
frequently asked question
1. Mengapa foto buram semua?
Jawab: Bisa jadi karena gerakan kamera tidak sesuai dengan gerakan objek. Cobalah percepat shutter speed dan coba untuk mengikuti gerakan objek seketat mungkin.
2. Mengapa foto fokus semua?
Jawab: Bisa jadi karena shutter speed terlalu cepat dan atau kamera kurang digerakan pada saat pemotretan.
5. Bulb
Foto bulb dapat
diperoleh melalui mode manual dengan mengatur shutter speed pada setting paling
lambat ( BULB ), dimana shutter akan terus terbuka selama tombol ditekan dan
akan menutup kembali pada saat tombol dilepas. Yang patut diperhatikan pada
foto bulb adalah posisi kamera yang mutlak harus statis, maka gunakanlah tripod
untuk menghasilkan foto bulb.
On 09.14 by Unknown No comments
KOMPOSISI
DASAR DAN
SUDUT
PENGAMBILAN GAMBAR ( CAMERA ANGLE )
Dalam dunia fotografi
tidak sedikit fotografer apalagi yang masih pemula, seolah terlena pada hal-hal
yang bersifat teknis saja, seperti mengatur bukaan diafragma, pengaturan
kecepatan, dan pengaturan jarak. Mungkin juga, selama ini tidak terpikirkan
bahwa di dalam foto itu terkandung nilai-nilai tertentu yang dapat membuat foto
itu bagus atau sebaliknya menjadi berantakan. Salah satunya adalah pengaturan komposisi.
Mungkin belum pernah membayangkan, bahwa dengan pengaturan komposisi
sesungguhnya dapat ditonjolkan subjek utama. Bahkan tidak jarang akan mendukung
keberhasilan foto-foto yang kita buat.
Definisi Komposisi
Komposisi secara
sederhana diartikan sebagai cara menata elemen-elemen dalam gambar,
elemen-elemen ini mencakup garis, bentuk, warna, terang dan gelap. Yang paling
utama dari aspek komposisi adalah menghasilkan visual impact (sebuah
kemampuan untuk menyampaikan perasaan yang anda inginkan untuk berekspresi
dalam foto). Dengan komposisi, foto akan tampak lebih menarik dan enak
dipandang dengan pengaturan letak dan perbandaingan objek-objek yang
mendukung dalam suatu foto. Dengan demikian perlu menata sedemikian rupa agar
tujuan dapat tercapai, apakah itu untuk menyampaikan kesan statis dan diam atau
sesuatu mengejutkan. Dalam komposisi selalu ada satu titik perhatian yang
pertama menarik perhatian.
Tujuan Mengatur
Komposisi Dalam Fotografi
1.
Dengan mengatur komposisi foto, kita juga dapat membangun “mood” suatu foto dan
keseimbangan keseluruhan objek foto.
2.
Menyusun perwujudan ide menjadi sebuah penyusunan gambar yang baik sehingga
terwujud sebuah kesatuan (unity) dalam karya.
3.
Melatih kepekaan mata untuk menangkap berbagai unsur dan mengasah rasa estetik
dalam pribadi pemotret.
Jenis-Jenis Komposisi :
Garis
Komposisi ini terbentuk
dari pengemasan garis secara dinamis baik garis lurus, melingkar / melengkung.
Biasanya komposisi ini bisa menimbulkan kesan kedalaman dan kesan gerak pada
sebuah objek foto. Ketika garis-garis itu digunakan sebagai subjek, yang terjadi
adalah foto menjadi menarik perhatian. Tidak penting apakah garis itu lurus,
melingkar atau melengkung, membawa mata keluar dari gambar. Yang penting
garis-garis itu menjadi dinamis.
Bentuk
Komposisi ini biasanya
dipakai fotografer untuk memberikan penekanan secara visual kualitas abstrak
terhadap sebuah objek foto. Biasanya bentuk yang paling sering dijadikan
sebagai komposisi adalah kotak dan lingkaran.
Warna
Warna memberikan sebuah
kesan yang elegan dan dinamis pada sebuah foto apabila dikomposisikan dengan
baik. Kadang kala komposisi warna dapat pula memberikan kesan anggun serta
mampu dengan sempurna memunculkan “mood color” (keserasian
warna) sebuah foto terutama pada foto – foto “pictorial” (Foto
yang menonjolkan unsur keindahan)
Gelap dan Terang
Komposisi ini sebenarnya
dipakai oleh fotografer pada era fotografi analog masih berkembang pesat
terutama pada pemotretan hitam putih. Namun, sekarang ini, ditengah – tengah
era digital komposisi ini mulai diterapkan kembali. Kini pengkomposisian gelap
dan terang digunakan sebagai penekanan visualitas sebuah objek. Kita dapat
menggunakan komposisi ini dengan baik apabila kita mampu memperhatikan kontras
sebuah objek dan harus memperhatikan lingkungan sekitar objek yang dirasa
mengganggu yang sekiranya menjadikan permainan gelap terang sebuah foto akan
hilang.
Tekstur
Yaitu tatanan yang
memberikan ksan tentang keadaan prmukaan suatu benda (halus, kasar, beraturan,
tidak beraturan, tajam, lembut,dsb). Tekstur akan tampak dari gelap terang atau
bayangan dan kontras yang timbul dari pencahayaan pada saat pemotretan.
Penerapan Komposisi
Dalam Pemotretan
Dalam pengemasan sebuah
foto agar terkesan dinamis dan menimbulkan keserasian perlu sebuah
pemahaman tentang kaidah – kaidah tentang komposisi. Yang antara lain:
- Rule of Thirds
(Sepertiga Bagian / Rumus Pertigaan)
Pada aturan umum
fotografi, bidang foto sebenarnya dibagi menjadi 9 bagian yang sama. Sepertiga
bagian adalah teknik dimana kita menempatkan objek pada sepertiga bagian bidang
foto. Hal ini sangat berbeda dengan yang umum dilakukan dimana kita selalu
menempatkan objek di tengah-tengah bidang foto
- Sudut Pemotretan (Angle of View)
Salah satu unsur yang
membangun sebuah komposisi foto adalah sudut pengambilan objek. Sudut
pengambilan objek ini sangat ditentukan oleh tujuan pemotretan. Maka dari itu
jika kita mendapatkan satu moment dan ingin mendapatkan hasil yang terbaik,
jangan pernah takut
untuk memotret dari berbagai sudut pandang. Mulailah dari yang standar (sejajar
dengan objek), kemudian cobalah dengan berbagai sudut pandang dari atas, bawah,
samping sampai kepada sudut yang ekstrim.
- Format : Horizontal dan vertikal
Proposi pesrsegi panjang
pada view vender pada kamera memungkinkan kita untuk memotret
dengan menggunakan format landscape(horisontal) maupun portrait (vertikal).
Format pengambilan gambar dapat menimbulkan efek berbeda pada komposisi akhir.
- Dimensi
Meskipun foto bercerita
dua dimensi, yang artinya semua terekam diatas satu bidang. Namun, sebenarnya
foto dapat dibuat terkesan memiliki kedalaman, seolah-olah dimensi ketiga.
Unsur utama membentuk dimensi adalah jarak, Dimensi dapat terbentuk apabila
adanya jarak, jika kita menampilkan suatu obyek dalam suatu dimensi maka akan
terbentuk jarak dalam setiap elemennya. Untuk membuat suatu dimensi diperlukan
adanya permainan ruang tajam, permainan gelap terang dan garis.
Sudut Pengambilan Gambar
( Camera Angle )
Dalam fotografi agar
foto yang kita hasilkan memiliki nilai dan terkesan indah harus diperhatikan
mengenai masalah penggunaan sudut pengambilan gambar yang baik. Dalam fotografi
dikenal 3 sudut pengambilan gambar yang mendasar, yaitu:
1. Bird Eye
Sudut pengambilan gambar
ini, posisi objek dibawah / lebih rendah dari kita berdiri. Biasanya sudut
pengmbilan gambar ini digunakan untuk menunjukkan apa yang sedang dilakukan
objek (HI), elemen apa saja yang ada disekitar objek, dan pemberian kesan
perbandingan antara overview (keseluruhan)lingkungan
dengan POI (Point Of Interest).
2. High Angle
Pandangan tinggi.
artinya, pemotret berada pada posisi yang lebih tinggi dari objek foto.
3. Eye Level
Sudut pengembilan gambar
yang dimana objek dan kamera sejajar / sama seperti mata memandang.
Biasanya digunakan untuk menghasilkan kesan menyeluruh dan merata
terhadap background sebuah objek, menonjolkan sisi ekspresif
dari sebuah objek (HI), dan biasanya sudut pemotretan ini juga dimaksudkan
untuk memposisikan kamera sejajar dengan mata objek yang lebih rendah dari pada
kita missal, anak – anak.
4. Low Angle
Pemotretan dilakukan
dari bawah. Sudut pemotretan yang dimana objek lebih tinggi dari posisi kamera.
Sudut pengembilan gambar ini digunakan untuk memotret arsitektur sebuah bagunan
agar terkesan kokoh, megah dan menjulang. Namu, tidak menutup kemungkinan dapat
pula digunakan untuk pemotretan model agar terkesan elegan dan anggun.
5. Frog Eye
Sudut penglihatan
sebatas mata katak. Pada posisi ini kamera berada di dasar bawah, hampir
sejajar dengan tanah dan tidak dihadapkan ke atas. Biasanya memotret seperti
ini dilakukan dalam peperangan dan untuk memotret flora dan fauna.
Field Of View
Beberapa jenis komposisi
yang umum digunakan dari segi ukuran (field of view) yang akan
diambil adalah sebagai berikut :
a. Extreme Close Up
Pengambilan gambar yang
sangat dekat sekali dengan objek, sehingga detil objek seperti pori-pori kulit
akan jelas terlihat.
b. Head Shot
Pengambilan gambar
sebatas kepala hingga dagu.
c. Close Up
Pengambilan gambar dari
atas kepala hingga bahu.
d. Medium Close Up
Pengambilan gambar dari
atas kepala hingga dada.
e. Mid Shot
(setengah badan)
Pengambilan gambar dari
atas kepala hingga pinggang.
f. Medium Shot
(Tiga perempat= badan)
Pengambilan gambar dari
atas kepala hingga lutut.
g. Full Shot
(Seluruh Badan)=
Pengambilan gambar dari
atas kepala hingga kaki.
h. Long
Shot
Pengambilan gambar
dengan memberikan porsi background atau foreground lebih banyak sehinnga objek
terlihat kecil atau jauh.
Beberapa jenis komposisi
dari segi banyaknya manusia sebagai objek yang difoto adalah sebagai berikut :
a. One Shot
Pengambilan gambar untuk
satu orang sebagai objek.
b. Two Shot
Pengambilan gambar untuk
dua orang sebagai objek.
c. Three Shot
Pengambilan gambar untuk
tiga orang sebagai objek.
d. Group Shot
Pengambilan gambar untuk
sekelompok orang sebagai objek.
Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam pengambilan gambar, diantaranya
Ø Headroom, merupakan ruang diatas kepala yang
berfungsi membatasi bingkai dan bagian atas kepala objek.
Ø
Noseroom, arah pandang
atau ruang gerak objek dalam sebuah frame, bertujuan untuk memberikan ruang
pandang sehingga terkesan bahwa objek memang sedang melihat sesuatu.
Ø
Foreground, segala
sesuatu yang menjadi latar depan dari objek.
Ø
Background, segala
sesuatu yang menjadi latar belakang objek.
TIPS HUNTING
Persiapan Awal
1.
Siapkan kamera dan peralatan lain yang di butuhkan (seperti flash, tripot,
filter, dll)
2.
Sebelum memulai hunting rencanankan konsep dan obyek apa yang akan diambil.
Pada Saat Hunting
1.
Ambil semua obyek yang memang ada dilokasi dan pikirkan pula apa yang akan di
ceritakan pada foto yang akan diambil.
2.
Untuk pemula, mulailah hunting dengan obyek yang beragam dan dasar,
seperti landscape, human interest, portrait, arsitektur,dll.
Kemudian menuju jenis-jenis foto yang lebih mengarah ke jurnalistik seperti
features, spot, essay dan stories.
Pasca Hunting
1.
Setelah hasil hunting jadi, lakukan evaluasi untuk mengetahui kekurangan dan
kelebihan dari hunting kita.
2.
Yang terpenting, lakukan presentasi foto dan pameran untuk menunjukkan
hasilhunting kita ke banyak orang.
Langganan:
Komentar (Atom)
Search
Popular Posts
-
kali ini saya akan memberikan tutorial bagaimana cara edit foto False Color pakai Photoshop. Oke langsung aja disimak :) -Pertama buka ...














